Ingin lihat sandal KPK? Nieh…
Nemu waktu mau sholat di Masjid Agung Sleman.
Ingin lihat sandal KPK? Nieh…
Nemu waktu mau sholat di Masjid Agung Sleman.
Klotak!!! Pulpen yang aku pegang terjatuh saat mau menandatangani kuitansi pesan cetak x-banner di suatu percetakan di daerah Lempuyangan Jogja. Licin.
“Eeee copot copot…..” latah Mbak customer service -nya. Jelas dibuat-buat.
“Ehm Mas, ga usah grogi, santai saja” sahutnya dengan senyum memancing
Waduh. Aku pun berusaha santai, kuambil bolpoin, lalu kembali menandatangani kuitansi itu.
“Masnya udah punya pacar belum? Pasti belum ya, kelihatan kok, grogi berhadapan dengan cewek”
Aku istighfar, asli aku bukan grogi. Aku tidak bohong kalau Mbaknya memang cantik, sangat cantik malah, tetapi bolpoinku jatuh justru karena aku berhati-hati menjaga jarak. Terlalu hati-hati mungkin? Atau ini juga disebut grogi? Walah. Aku tidak mau gegabah, saya tahu arah pembicaraannya.
“Maaf Mbak, saya tidak ingin mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain”
Mbaknya terkejut.
“Maksud Masnya apa?”
“Saya tidak ingin mengganggu istri orang lain”
Kali ini Mbaknya benar-benar terkejut.
“Masnya kenal saya? Kok saya ga kenal Masnya ya?”
“Saya tidak kenal Mbak, baru kali ini bertemu”
“Loh darimana Masnya tahu kalau saya sudah menikah”
Aku tersenyum.
“Saya mahasiswa biologi Mbak, selain mempelajari hewan dan tumbuhan saya juga mempelajari manusia, anatominya, fisiologinya, antropologi ragawi, biologi manusia”
Aku menjelaskan, loh kok saya malah terperangkap sepertinya.
“Berarti Mas bisa tahu apakah seseorang sudah menikah atau belum ya”
Nada yang terkejut, berubah jadi penasaran.
“Kurang lebih seperti itu Mbak, jika saya menemukan tulang paha manusia, saya dapat dengan cepat menentukan apakah itu tulang paha pria atau wanita, sebelah kanan atau kiri. Itu dipelajari di kampus. Itu mudah. Nah penentuan apakah seseorang sudah menikah atau belum lebih sulit, saya mempelajari teorinya, tetapi lebih banyak membantu adalah pengalamannya”
Wah kok aku terbawa suasana.
“Wah hebat, dan Mas tahu hanya dengan sekali bertemu saya di sini?”
“Ya”
“Emang gimana ciri-ciri orang yang sudah menikah?” penasaran
“Saya sulit menjelaskannya Mbak, seperti yang saya katakan tadi, ini lebih banyak ke pengalamannya. Mulanya memang agak sulit, tetapi seiring dengan bertambahnya pengalaman, kita jadi terlatih dan akurat. Dosen saya, seorang professor antropologi dari Kedokteran, bahkan konon dapat mengetahui, apakah seorang wanita pernah, emm maaf, pernah diperkosa atau tidak, hanya dengan bertemu, tanpa uji fisik”
Saya kebablasan, saya jadi rikuh, merasa tidak enak. Mbaknya juga kembali terkejut, dan memalingkan muka. Saya tahu artinya, tanda-tanda mulai menjaga jarak, risih dan takut.
“Tidak usah takut Mbak, tidak semuanya saya ketahui kok, masih banyak yang tidak saya ketahui, bahkan yang saya kira saya tahu pun kadang-kadang salah, saya masih perlu banyak belajar”
Aku sedikit mencairkan suasana.
“Yang dosen saya tahu barusan, saya juga belum tahu kok. Saya belum dapat ilmunya e.. e… e… maksud saya saya tidak berniat mempelajari yang itu. Terlalu liar untuk saya. Yang saya pelajari ya yang menurut saya berguna, seperti ya itu tadi, menentukan apakah seorang wanita sudah jadi istri atau belum. Kan saya ga mau dipukuli suami orang gara-gara centil mengganggu istri tercintanya” kataku sambil sedikit tertawa, sambil berdoa agar suasana kembali menyenangkan
“Eh Mbak, ini saya sudah tandatangan, ini saya bayar atau saya bawa pulang saja, gratis” kataku sambil beringsut pura-pura hendak pulang
“Eeeee…. bayar dulu Mas, Masnya juga pasti gak mau dipukuli orang sekantor gara-gara menganggu customer service kantor kan?”
“Hahaha….”
Aku pun membayar pesanan x-bannerku. Sambil menunggu proses, aku memandang keluar, ke kaca pintu yang tembus ke jalan, diseberang jalan, sebuah universitas berdiri. Huhhh salah nieh, tidak seharusnya begini, aku terlalu terbawa suasana. Beginilah kalau orang ga pandai jaga emosi, dipuji sedikit, langsung terbang tinggi.
“Ini Mas, bisa diambil besok pesanannya”
“Oke Mbak, maturnuwun”
“Ya sama-sama, besok anak saya ku kuliahkan di biologi saja ah, biar bisa menebak kepribadian orang.
Aku tersenyum, kemudian berlalu.
Tidak perlu masuk biologi untuk dapat menebak kepribadian seseorang. Rajin-rajin saja membaca dan bergaul dengan banyak orang, nanti juga terlatih sendiri. Aku tersenyum lagi, bukankah ciri-ciri wanita yang sudah menikah itu punya cincin di jari manisnya?. Kayaknya di setiap pernikahan pasti ada acara pemasangan cincin ke pasangannya kan?
Kalau tentang anatomi manusia, fisiologi, antropologi, biologi manusia memang harus kuliah dulu di biologi, atau kedokteran. Dengan itu tanpa cincin pun kita tahu.
*cerita fiktif. Mulai belajar bikin cerpen
Apakah Anda merutinkan salah tarawih?
Apa persamaan dari salat tarawih dan salat jumat? Sama-sama seminggu sekali xixixixixi….
Jika jawaban Anda sama dengan jawaban di atas, yuk saatnya buat perbedaan, saatnya dibedakan antara salat tarawih dan salat Jumat. Jika salat Jumat memang wajib sekali seminggu, sedangkan tarawih bisa dikerjakan setiap hari di bulan Ramadhan ini.
Ya biar bedalah, antara salat tarawih dan salat Jumat, kan memang berbeda?
Apa target Anda bulan Ramadhan ini? Jika target Anda (masih) puasa sebulan penuh, kebangetan menurut saya. Lah iyalah ini bulan Ramadhan a.k.a. bulan puasa, sudah sewajarnya kan, kalau kita memang harus puasa sebulan penuh?
Kalau Anda masih SD, target puasa sebulan penuh itu bagus, dan wajar. Lah kalau kita? Yang udah gede ini? Ayolah ditambahi targetnya, puasa sebulan penuh, baca Alquran setiap hari, solat lima waktu tepat waktu, silaturahim, baca minimal 5 buku, tarawih setiap hari, dll.
Yang dulunya khatam Al-quran, setahun sekali, ayo di bulan ini dikhatamkan dalam waktu sebulan. Yang dulu tidak pernah baca terjemah Al-quran, sekarang mulai membaca, apa sih artinya ayat-ayat yang setiap hari saya baca dalam solat. Yang dulu subuhnya bolong-bolong, sekarang saatnya subuh rutin di masjid. Yang ga pernah solat tahajud, tahajudlah pas bangun sahur.
Ingat, Ramadhan adalah biasa saja, tanpa target yang luar biasa!!! Wayoooo