Suatu hari dapat sms dari seorang temen yang isinya kurang lebih seperti ini.
"Sunu, aku tuh sebenere ******annya cuma karena ikut-ikutan temen. Bukan dari kesadaran diri sendiri. Nah lo, gimana tuh?"
Wah mbuh yo hehe…bagus kayake.
Kalau semua hal baik berasal dari kesadaran diri sendiri, kapan yo kita akan berbuat baik? Sekolah, belajar, ngaji, berguru, sikat gigi, dulu pertama kalinya apa karena murni dari kesadaran diri sendiri.
Coba aja jika orangtua kita dulu bilang gini :
"Sunu, terserah kamu mau sekolah atau gak? Teman-temanmu sudah mulai sekolah di TK (taman kanak-kanak). Ibu dan Bapak tidak akan memaksamu, semuanya harus kesadaran kamu sendiri!"
Beuuu parah banget kan, kalau dulu ga dipaksa, dijewer, dimarahi tuk mulai masuk sekolah, kita-kita mungkin ga bisa kayak sekarang ini kan? Aku ga bisa masuk ugm tercinta, kampus biru, kampus yang dulu katanya kampus kerakyatan halah….Ga bisa masuk fakultas biologi, kumpul bareng dengan orang-orang seperti kalian *hahaha dari tulisannya keliatan banget menghina…kalian ngerasa ga sih hehehe
Iyakan? Itu baru tuntutan dari kesadaran diri sendiri, belum sampai kepada kalau melakukan suatu kebaikan harus didasari keikhlasan.
"Ngaji harus didasari rasa ikhlas, kalo ga, percuma aja ngajinya!"
Kapan dong kita ngajinya? Nunggu kita ikhlas? Kapan?
"Salat itu wajib dilandasi keikhlasan. Kalo ga, ga guna salatnya"
Hei..hei..itu tidak berarti kalau kita belum bisa menimbulkan rasa ikhlas kita ga mau mendirikan solat kan? Tetep salat dan terus latihan tuk ikhlas.
Pernah dengar kata-kata ini…
"Diakui atau tidak, terpaksa atau rela, kita semua adalah hamba-Nya"
Berat yo….kekekeke. Mbuh ki, aku yo kringeten nulise…hahaha. Sekedar "menjawil tuk menoleh" aja deh.
**Gambar diambil dari sini.