belajar menulis, memaknai, menyemangati dan memahami…apapun

29 July 2009

Bocah…

Filed under: renungan, cerita-cerita

 

Sore di Mbah, setelah mandi dan solat ashar. Penginnya sih ikut kajian rutin selasa di Maskam, tapi kok rada ngantuk ya *halah so’ soan Sun, nggaya emoticon.

Maka kuputuskan pulang aja ke rumah di Sleman. Sore-sore jam setengah limanan kayak gini di jogja emang enaknya buat naik motor, jalan-jalan. Maka pulanglah aku.

Di perempatan Pingit, dari arah tugu, aku berhenti. Kenapa berhenti? Ya ialah, lampune abang Dab. *mekso

Tiba-tiba muncullah anak kecil. Putri, mungkin seumuran kelas 1 atau 2 SD. Lumayanlah *hoho pedo detected ki, eling eling Boz…plakkk

Lalu, biasalah, di perempatan besar seperti ini.

    "Mas, uang Mas" sambil memohon, mengatupkan kedua telapak tangannya *tapi menurutku seperti hanya sebuah protokol, tanpa mimik yang pas.

Seperti mau bilang kayak gini "Mas kasih uang, kalau ndak ya g papa" hehehe.

Karena pengendara di depanku tidak mau kasih uang,

    "Mas, Mas, uang seratus saja juga ga papa" *hah

Tetap tidak mau. Maka gantianlah saya yang jadi "korban".

Namun, karena saya tahu bahwa di kota ini sedang diwacanakan sebuah gerakan : PEDULI TIDAK SAMA DENGAN MEMBERI, maka serta merta saya menolaknya juga. *wuuu ngapusi, ngomong wae pelit, pake alesan, ahhh mbuh emoticon

Anak kecil itu pun tidak meminta lagi.

    "Mas, plat G itu daerah mana" iseng dia, melihat plat nomorku

Hehg kaget juga aku.

    "Tergantung belakangnya, kalau G belakangnya C itu ya Batang"

    "Itu Tegal" sahut anak lelaki, muncul, umurnya lebih tua.

    "Kalau Tegal belakange kalau gak P ya M" tukasku *bener ra iki

    "Oh lha Mase, belakange G kok bukan C" sahut adik kecil tadi

    "Enggak, belakange C, bukan G, liat aja"

    "Oh ya ding, C" sadarnya setelah di depan motorku

Aku berfikir, wah iki mah ngladeni bocah cilik, di perempatan rame, dilihatin orang ga ya *sok terkenal.

    "Oh jadi kalau G blakange C itu Batang ya Mas"

    "Ho oh, eh udah dulu ya"

Aku pun melaju cepat-cepat. Kenapa? Lampune wes ijo Dab.
Hmmm anak kecil tetap aja anak kecil, banyak tanyane, bahkan sama orang yang belum dikenal juga. Atau karena sudah terbiasa ya?

 

 

**Gambar diambil dari sini 

28 July 2009

Hutang!!!

Filed under: renungan, cerita-cerita

 

Saya berhutang duabelas ribu rupiah kepada teman dekat saya. Ceritanya, pada sabtu ahad, aku dan teman-teman pergi jalan-jalan ke dieng. Berangkat sabtu sore, tidur di wonosobo, dan ahadnya baru ke dieng. Sewaktu beli tiket masuk ke dieng, teman saya menyodorkan uang limapuluhribuan, tuk membayar tiket.

    "Sama kamu dulu Sun"

Tiket masuk Dieng adalah duabelasribu. Dan karena saya tidak bawa uang cukup tuk membayarnya, maka saya bilang akan bayar besok.

    "Mas, besok ya, uangku habis nih di dompet" kataku di rumahnya, sepulang dari Dieng, jam 8 malamnya. Dan kami berlima pun pulang ke rumah *kost, masing-masing.

Senin siang, sehabis zuhur, bertemu di mushola kampus.

    "Mas, bayar hutang, sepuluh ribu dulu ya" kataku karena uang yang ada sepuluhribuan semua, tidak ada duaribuan.

    "Yang duaribu nyusul"

    "Oke"

Tetapi ternyata timbul juga ya rasa malas mengembalikan segera mungkin, apa karena cuma dua ribu. Tidak tidak, saya tidak merasa malas membayarnya. Saya masih merasa saya wajib membayarnya, meskipun cuma duaribu, yang saya rasa adalah malas untuk segera melunasinya.

    "Ah besok-besok lagi saja jika bertemu di kampus"

Seminggu berlalu dan duaribu itu belum terlunasi. Hegh ternyata lebih mudah melunasi hutang besar ya, daripada hutang kecil, gurauku. Padahal tetep saja namanya hutang, kecil atau besar harus dilunasi.
*****

Hari ahad pagi, rencananya mau ke rumah Mbah. Terbersit pikiran.

    "Ah sekalian mampir po ya, nglunasi duaribu. Biar lunas sekalian"

    "Gimana kalau besok saja, seh males ki"

Bimbang.

Namun, akhirnya sampai juga di warungnya (temanku yang ini punya warung). Dan kayae aku datang pas pada waktunya hehehe :)

    "Mas mau bayar hutang, eh kayake aku datang di saat yang tepat nih" kataku ketika liat dia bawa piring berisi cendol halah telor ceplok.

    "Oke, ayo makan sekalian"

Lalu duduk di lesehannya, ngeluarin uang duaribu.

    "Mas bayar nih"

    "Yoi, makan sekalian ya" lalu dia bilang kepada karyawannya

    "Mbak tolong ambilin telor ceploknya satu lagi ya"

Hahaha…di situ sudah ada temannya satu lagi. Jadi tadi itu niatnya cuma makan tuk berdua, telornya dua deh. Nah karena aku datang di saat yang tepat *pede, maka ditambahlah telornya satu lagi.

Dan makanlah kita, di pagi yang cerah, setengah delapan ahad, 26 Juli 2009.

Wah wah hutang lunas, makan gretongan, dapat teman baru lagi.
*makanya Sun bayar hutang, itu baru duaribu dapat makan gratis, coba hutang lebih besar lagi gih dapat apa coba *lempar sendal

 

 

**Gambar diambil dari sini 

27 July 2009

Doa Kyai…

 

Suatu malam, sepasang suami istri cemas melihat anaknya sakit demam. Suhu tubuhnya tinggi sekali.

    "Pak coba minta obat dari Pak Kyai" bilang istrinya

Sang ayah sebenarnya sudah berfikiran serupa, tetapi ada rasa pakewuh jika minta sekarang yang sudah jam 11 malam lewat. Namun, melihat anaknya yang sakit, sang ayah pn membulatkan tekad untuk sowan ke Pak Kyai. Ditepisnya rasa pakewuh yang sedari tadi membebani hatinya.

Sampai di depan rumah Pak Kyai, suasana sudah sepi. Rasa pakewuh kembali menyelimutinya.

    "Jadi tidak ya" gumamnya

Demi teringat anaknya, dikuatkanlah hatinya. Bismillah, diketuknya pintu rumah sambil mengucap salam. Hening. Dia menunggu sejenak. Sepi.
Dia mengetuk pintu lagi, tetapi sebelum mengucap salam, dia mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah dan sebuah salam balasan, Pak Kyai.

    "Oh kamu Pak Midun, silahkan masuk, ada apa ya?"

Pak Midun ragu, rasa pakewuh itu kembali menyerang.
        
    "Benar kan, Pak Kyai sudah tidur. Wah aku mengganngu tidurnya" dalam hatinya

Pak Midun pun langsung mengutarakan maksudnya. Pikirnya supaya tidak lama-lama mengganggu Pak Kyai.

    "Assalamualaikum Pak Kyai, maaf nyuwun panganpunten malam-malam mengganggu tidur Pak Kyai. Anak saya, Minah, sakit demam Pak, saya mau minta obat dari Pak Kyai. Maaf" ucap Pak Midun, dengan intonasi takut-takut

    "Oh ya tunggu sebentar ya Pak" balas Pak Kyai berlalu ke belakang.

Pak Midun menunggu, dia mendengar suara gemericik air, Pak Kyai berwudu. Lalu, hening.

***—-***

Pak Kyai datang sambil membawa sebuah gelas berisi air putih. Meletakannya di hadapan Pak Midun.

    "Ini Pak, diminumkan ke de Minah. Semoga bisa menjadi obat sakitnya. Amin!!!"

    "Maturnuwun Pak Kyai" tutur Pak Midun antara haru dan gembira

    "Tetapi Pak Kyai, saya tidak bawa apa-apa untuk membayar ini" sahutnya dengan suara hampir tidak terdengar

    "Ah itu mah gampang Pak. Yang penting putranya sembuh dulu. Lekas diminumkan Pak"

    "Ah ya Pak Kyai, maturnuwun maturnuwun. Saya pamit dulu, maaf maaf"

Setelah menyalami Pak Kyai, Pak Midun membawa gelas tersebut kembali ke rumah. Hatinya gembira setelah mendapat "obat" dari Pak Kyai.

    "Semoga Minah sembuh"

Dalam perjalanan pulang Pak Midun berfikir sambil memandang ke gelas tadi.

    "Bagaimana bisa ya, air putih menyembuhkan berbagai macam penyakit. Padahal ini hanya air putih biasa sepertinya. Cuma dibacakan doa-doa oleh Pak Kyai tadi. Apakah ini misteri Gusti Allah. Apa yang menyembuhkan penyakit? Air putih ini atau doa-doa yang mustajab dari Pak Kyai?" heran Pak Midun

Gubrak, karena memandangi gelas yang ada di tangannya. Pak Midun jatuh tersandung. Gelas yang berisi "obat" tadi pun jatuh, dan airnya tumpah ke tanah. Pak Midun tak percaya akan apa yang dialaminya, hampir menangis dia memungut gelas yang sudah kosong tersebut. Istighfar!!!

    "Astaghfirullah, bagaimana ini. Kembali ke rumah dengan tangan kosong, atau meminta kembali ke Pak Kyai? Dua-duanya pilihan sulit"

Pak Midun bingung, dia berfikir sambil berjalan hingga sampai di depan rumahnya. Dia berhenti. Istri dan anaknya pasti sangat menanti kedatangannya dengan "obat" dari Pak Kyai. Dan sekarang di tangannya hanya ada gelas dan tutupnya. Matanya memandang ke depan rumahnya, lalu munculah ide itu.

Di lincak depan rumahnya terdapat botol bekas air mineral yang biasa dipakai tempat minum anaknya jika ke sekolah, dan masih ada airnya. Tanpa buang-buang waktu Pak Midun langsung menuang air di botol tersebut ke gelas yang dibawanya. Pak Midun duduk di lincak, menangis.

    "Ya Allah jika benar Engkaulah yang menyembuhkan, maka tak masalah darimana air tersebut, dari Pak Kyaikah atau dari botol ini" lirih Pak Midun, kemudian menangis…

******

Setelah menguasai dirinya, mengusap air matanya, dia lalu masuk ke rumah.

    "Bagaimana Pak?" sambut istrinya

Pak Midun hanya diam, kemudian mengulurkan gelas yang ada di tangannya.

    "Alhamdulillah" sahut istrinya menerima gelas tersebut.

Begitu gembiranya, sampai tidak memperhatikan raut muka suaminya.

Istrinya langsung meminumkan air dalam gelas tersebut ke Minah, anaknya.

    "Bismillah"

Tanpa menyadarinya.

*******

Dua hari kemudian, si Minah sudah berangkat sekolah seperti biasanya.

    "Alhamdulillah, si Minah sudah sembuh ya Pak. Doa Pak Kyai memang manjur ya"

Pak Midun hanya tersenyum kecil. Doa memang manjur ya.

 

 

**Gambar diambil dari sini 

24 July 2009

IP!!!!

Filed under: renungan, iseng

Anda pasti tahu IP kan? Kalau dalam hubungan bermasyarakat adalah hal tabu kalau membicarakan masalah SARA (suku ras dan antar golongan), maka kalau dalam komunitas mahasiswa adalah hal tabu kalau membicarakan masalah SARIP (skripsi, angkatan dan IP hehehe).

Minggu-minggu ini, mahasiswa UGM (biologi tok coke yo) masih menunggu nilai dari hasil ujian akhir semester genap kemarin *wes metu kabeh kayake Sun (telat le mosting). Nilai yang berbentuk huruf tersebut dikumpul dalam KHS (kartu hasil studi), yang bisa diakses dari internet. *hore jadi dari rumah pun bisa ngecek, ga perlu manteng ke akademik.

Nah satu hal yang menarik, karena nilai-nilai matakuliah tidak mesti serentak jadi semua, maka bagian akademik memasukkan satu persatu nilai yang sudah terlebih dahulu disetor dosen ke portal akademik mahasiswa yang bersangkutan. Menariknya? Sabar, jangan jadi temennya doraemon : DORASABARAN hehehe

Silahkan lihat gambar di bawah
eng ing eng, liat ip ne hehehe

KHS yang kuambil tanggal 14 Juli 2009 menunjukkan bahwa saya termasuk golongan mahasiswa cerdas beuuuu, terlihat dengan banyaknya nilai A hahaha. Ada lagi yang lebih menarik, coba perhatikan perolehan ip ku hwa hwa hwa, lihat di bagian bawah. IP : 3,78 ckckckck nglebihi cum laude ki. Segitukah ip saya? Sayangnya gak :(   itu cuma ip dari nilai yang sudah masuk, yang belum masuk gak dihitung. Jadi? Ya kemungkinan kalau ada lagi nilai keluar, ipku bisa naik bisa juga turun. Lihat hasil khs tanggal 15 Juli di bawah 

eng ing ing lagi, yah ip ne turun :( 

Karena ada nilai masuk, dan hasilnya B, tidak A seperti biasanya *haiah haiah, maka ip jadi turun sedikit, menjadi 3,58. Berharap yang lain nilaine A semua hehehe. Lihat di bawah

dah trakhir, doh skripsiku ga bisa diharapkan  

Nah gambar di atas adalah khs yang terakhir. Lihat ipnya. Tinggi? Bangga kah saya? Ga tau ya, coba lihat matakuliah skripsi… seh kosong. Artinya aku belum selesai melakukan skripsi, dan boro-boro selesai, mulai aja belum *sedih. Nilainya jadi nol, dan itu akan sangat mungkin sekali *lebay karena terlalu sedih, sangat sangat mengurangi ip, cos skripsi ada  6 sks sendiri. Jadi yang tadi total nilai masih dibagi 18, pas diakhir (ketika skripsi diberi nol), total nilai yang sama tetapi dibagi dengan 24 *sigh.

 

 

 

 

 

 

 

 

*btw doain yagh, ben ndang skripsi, lancar, ben ndang ra……(sensor) 

23 July 2009

Semuane…

Filed under: iseng

 

THE QUICK BROWN FOXS JUMP OVER THE LAZY DOG

Anda tahu kalimat tersebut? Ada yang aneh? Atau ada sesuatu?

Yup, kalimat tersebut menggunakan semua alfabet dalam bahasa Inggris. Saya membacanya dari suatu artikel, cuma saya lupa susunannya, apakah brown quick atau quick brown ya *dasar toefl cuma 600 (3kali). Dan lagi alfabet "s" nya itu dalam foxs atau dimana ya *halah, niat memberi info ga koe ki Sun emoticon

 

 

**Gambar diambil dari sini