Kamis pagi, ke kampus. Rencananya mau ambi uang di atm BNI di kptu Fakultas Teknik UGM. Pacu motor, parkir di Mustek, musholanya teknik. Turun, mencantolkan helm di bawah jok. Helm bagus je.
“Mas, mau kemana” tegur seorang Bapak, aku tahu dia, yang biasa membersihkan mushola ini
“Ke kptu Pak. Ambil uang di atm”
“Jangan parkir di sini. Tidak boleh”
“Loh kenapa Pak. Terus parkirnya di mana” aku heran, biasanya aku pasti parkir di sini, samping mushola.
“Ya parkirnya di sana” kata Bapaknya sambil menunjuk tempat parkir di sebelah kptu
Aku pun duduk di teras mushola, di dekat Bapak itu.
“Memangnya tidak boleh parkir di sini ya Pak. Kalau parkir di seberang jalan boleh tidak?” tanyaku sambil menunjuk segerombolan motor di seberang jalan, sebelah selatan mushola.
“Tidak boleh. Lihat saja itu motor yang diparkir, bannya digembosin semua. Helmnya juga diambil”
Doh…aku baru sadar. Iya semua motor yang ada disitu. Ada 6, 3 di samping mushola, termasuk punyaku, dan 3 diseberang jalan, semuanya tanpa helm, kecuali punyaku tentunya, kan dicantolin di jok hehehe. Lalu aku pun melihat ban belakangnya, setengah kempis semua. Walah….
Datang seorang Bapak lagi, lebih muda, dosen kayaknya. Duduk di teras, memakai sepatunya. Yang aku heran, dia menenteng empat helm. Wah…wah berarti yang melakukannya Bapak ini.
“Pak, memang tidak boleh parkir di sini ya” kataku langsung, penasaran juga.
“Boleh kok, asal punya keperluan di mushola”
“Lah kalau ke kptu sebentar ambil uang lalu ke mushola boleh tidak?”
“Ya boleh….intinya ada keperluan di mushola”
“Kenapa tidak boleh parkir di sini?”
“Ya karena ini peruntukkannya untuk orang-orang yang punya keperluan di mushola. Kalau tidak begini, nanti sini menjadi tempat parkir umum Mas”
Hehehe….
“Kita sering kena tegur, karena jalan di depan ini (samping mushola) penuh oleh motor yang parkir. Yang parkir di jalan padahal punya keperluan di mushola. Kenapa parkir di jalan? Karena tempat parkirnya sudah penuh oleh orang-orang yang malah tidak punya keperluan di mushola. Kalau saya sempat saya pasti ke sini, mengecek. Kelihatannya banyak motor yang parkir, tetapi mushola sepi, tidak ada orang. Ketika waktu sholat tiba, orang-orang kehabisan lahan parkir. Jadi parkir di jalan. Kita kena tegur lagi”
Tiba-tiba datang mahasiswa, meminta helmnya yang diambil. Bapak itu memberikan sambil berpesan jangan diulangi lagi.
“Oke Mas. Silahkan saja kalau mau ke mushola, parkir di sini tidak apa-apa” pamit Bapak muda itu sambil bergegas pergi. Sambil menenteng helm tentunya.
“Pak, itu dosen ya? Takmir sini ya?”
“Iya Mas, dia takmir sini. Kelihatannya dosen kimia”
Hahaha waduh, berarti aku harus punya keperluan di mushola nieh *alesan, padahal niatnya cuma parkir terus ambil uang di kptu, terus kaboor. Aku pun lalu ke kptu, ambil uang, lalu kembali lagi ke mushola. Duduk2 sebentar wkwkwk
Aku terus berfikir, kenapa aku parkir di sini? Karena dekat dengan kptu. Lah bukannya ada parkiran di sebelah kptu Sun, kenapa tidak di sana saja? Nah ini masalah yang lebih utama hayah, parkir di kptu itu tidak gratis alias membayar, limaratus perak. Kecil memang, tetapi ambil uang di atm kan juga cuma sebentar. Sayang saja, ke kptu sebentar harus membayar ongkos parkir, di kampus sendiri lagi, kan saya mahasiswa ugm juga, masak iya saya harus membayar parkir. Kemana saja uang saya? Xixixixi *mulai mempolitisir.
Ada mahasiswa lagi, parkir di seberang jalan. Belum sempat turun.
“Mas mau kemana?”tanya Bapak yang juga menegurku tadi.
“Ke kptu sebentar Pak”
Nah lho…
“Tidak boleh parkir di situ, parkir di sebelah sana” menunjuk ke parkir kptu.
Dan, mahasiswa itu pun pergi. Mungkin juga parkir di kptu, yang membayar, padahal mungkin juga cuma ambil uang seperti saya. *menghela nafas
Di satu sisi, saya setuju, di sisi lain?
Bagaimana ini?
**Gambar diambil dari sini.