belajar menulis, memaknai, menyemangati dan memahami…apapun

18 April 2010

Ibu “bohong”

Filed under: titik awal, renungan

Kutipan bagus, saya ambil dari majalah Tarbawi 219 tahun 11, 14 Januari 2010, halaman 12-13.

Seorang anak yang telah dewasa menuliskan kisah masa kecilnya kala bersama ibunya, yang tak pernah kenal lelah bekerja untuk dirinya dan adik-adiknya. Saat itu mereka hidup dalam keadaan amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika sedang makan, ibunya seringkali memberikan bagian nasinya untuknya. Sambil memindahkan nasi ke piring anaknya, si ibu berkata. “Makanlah nak, aku tidak lapar”. Setelah dewasa, dia baru tersadar bahwa saat itu ibunya telah “berbohong”.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah suatu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,” tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali ‘berbohong’,” lanjut lelaki itu. “Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela mengerjakan sulaman berang-barang kerajinan yang didapatnya dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu.

Saat itu aku terenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukkan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang menasehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu ‘berbohong’,” tulisnya, meneruskan ceritanya.

Perjuangan membesarkan anak adalah hari-hari yang penuh rasa sepi, dengan kesulitan yang terkadang belum kita bisa cerna saat itu, atau mungkin hingga hari ini. Namun kita tak pernah mencoba untuk mengingatnya, untuk sekedar mengenang jasa manusia agung itu, yang telah memberikan segalanya untuk kita.

Ibu!

Filed under: titik awal, renungan

Dapat cerita bagus, setidaknya menurut saya :) , di majalah Tarbawi 219 tahun 11, 14 Januari 2010, halaman 21-22.

Saya kutip utuh.

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah mengeringkan tangannya dengan kain lap, si Ibu pun meraih kertas itu lalu membaca isinya. Sederet catatan pekerjaan telah diselesaikan oleh si anak di hari itu, tercantum di atas kertas tersebut beserta besaran uang yang harus dibayar oleh si Ibu, sebagai upah dari pekerjaan-pekerjaan itu.

Selesai membaca kertas itu, sang Ibu memandangi anaknya penuh cinta berbalut senyum. Berbagai kenangan pun terlintas dalam benaknya. Ia lalu mengambil pulpen, kemudian membalikkan kertas tersebut dan menuliskan catatan ini : Untuk sembilan bulan ibu mengandungmu, tak ada upah. Untuk semua malam ibu menemanimu, tak ada bayaran. Mengobati kamu dan mendoakan kamu, ibu tak meminta ganti. Untuk semua bentuk kesulitan dan air mata dalam mengurusmu, tak pernah ibu menuntutmu. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis. Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis. Anakku! Andai engkau menjumlahkan semuanya, akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah gratis.

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya seraya berkata, “Bu, aku sayang sekali kepada Ibu…”. Kemudian ia mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf besar , “LUNAS”.