belajar menulis, memaknai, menyemangati dan memahami…apapun

22 December 2010

Saya Pindaaaaaah!!!!!

SAYA PINDAAAAAH
KE apriliaagusta.blogspot.com

26 August 2010

Istri Orang!

Filed under: cerita-cerita

Klotak!!! Pulpen yang aku pegang terjatuh saat mau menandatangani kuitansi pesan cetak x-banner di suatu percetakan di daerah Lempuyangan Jogja. Licin.

“Eeee copot copot…..” latah Mbak customer service -nya. Jelas dibuat-buat.

“Ehm Mas, ga usah grogi, santai saja” sahutnya dengan senyum memancing

Waduh. Aku pun berusaha santai, kuambil bolpoin, lalu kembali menandatangani kuitansi itu.

“Masnya udah punya pacar belum? Pasti belum ya, kelihatan kok, grogi berhadapan dengan cewek”

Aku istighfar, asli aku bukan grogi. Aku tidak bohong kalau Mbaknya memang cantik, sangat cantik malah, tetapi bolpoinku jatuh justru karena aku berhati-hati menjaga jarak. Terlalu hati-hati mungkin? Atau ini juga disebut grogi? Walah. Aku tidak mau gegabah, saya tahu arah pembicaraannya.

“Maaf Mbak, saya tidak ingin mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain”

Mbaknya terkejut.

“Maksud Masnya apa?”

“Saya tidak ingin mengganggu istri orang lain”

Kali ini Mbaknya benar-benar terkejut.

“Masnya kenal saya? Kok saya ga kenal Masnya ya?”

“Saya tidak kenal Mbak, baru kali ini bertemu”

“Loh darimana Masnya tahu kalau saya sudah menikah”

Aku tersenyum.

“Saya mahasiswa biologi Mbak, selain mempelajari hewan dan tumbuhan saya juga mempelajari manusia, anatominya, fisiologinya, antropologi ragawi, biologi manusia”

Aku menjelaskan, loh kok saya malah terperangkap sepertinya.

“Berarti Mas bisa tahu apakah seseorang sudah menikah atau belum ya”

Nada yang terkejut, berubah jadi penasaran.

“Kurang lebih seperti itu Mbak, jika saya menemukan tulang paha manusia, saya dapat dengan cepat menentukan apakah itu tulang paha pria atau wanita, sebelah kanan atau kiri. Itu dipelajari di kampus. Itu mudah. Nah penentuan apakah seseorang sudah menikah atau belum lebih sulit, saya mempelajari teorinya, tetapi lebih banyak membantu adalah pengalamannya”

Wah kok aku terbawa suasana.

“Wah hebat, dan Mas tahu hanya dengan sekali bertemu saya di sini?”

“Ya”

“Emang gimana ciri-ciri orang yang sudah menikah?” penasaran

“Saya sulit menjelaskannya Mbak, seperti yang saya katakan tadi, ini lebih banyak ke pengalamannya. Mulanya memang agak sulit, tetapi seiring dengan bertambahnya pengalaman, kita jadi terlatih dan akurat. Dosen saya, seorang professor antropologi dari Kedokteran, bahkan konon dapat mengetahui, apakah seorang wanita pernah, emm maaf, pernah diperkosa atau tidak, hanya dengan bertemu, tanpa uji fisik”

Saya kebablasan, saya jadi rikuh, merasa tidak enak. Mbaknya juga kembali terkejut, dan memalingkan muka. Saya tahu artinya, tanda-tanda mulai menjaga jarak, risih dan takut.

“Tidak usah takut Mbak, tidak semuanya saya ketahui kok, masih banyak yang tidak saya ketahui, bahkan yang saya kira saya tahu pun kadang-kadang salah, saya masih perlu banyak belajar”

Aku sedikit mencairkan suasana.

“Yang dosen saya tahu barusan, saya juga belum tahu kok. Saya belum dapat ilmunya e.. e… e… maksud saya saya tidak berniat mempelajari yang itu. Terlalu liar untuk saya. Yang saya pelajari ya yang menurut saya berguna, seperti ya itu tadi, menentukan apakah seorang wanita sudah jadi istri atau belum. Kan saya ga mau dipukuli suami orang gara-gara centil mengganggu istri tercintanya” kataku sambil sedikit tertawa, sambil berdoa agar suasana kembali menyenangkan

“Eh Mbak, ini saya sudah tandatangan, ini saya bayar atau saya bawa pulang saja, gratis” kataku sambil beringsut pura-pura hendak pulang

“Eeeee…. bayar dulu Mas, Masnya juga pasti gak mau dipukuli orang sekantor gara-gara menganggu customer service kantor kan?”

“Hahaha….”

Aku pun membayar pesanan x-bannerku. Sambil menunggu proses, aku memandang keluar, ke kaca pintu yang tembus ke jalan, diseberang jalan, sebuah universitas berdiri. Huhhh salah nieh, tidak seharusnya begini, aku terlalu terbawa suasana. Beginilah kalau orang ga pandai jaga emosi, dipuji sedikit, langsung terbang tinggi.

“Ini Mas, bisa diambil besok pesanannya”

“Oke Mbak, maturnuwun”

“Ya sama-sama, besok anak saya ku kuliahkan di biologi saja ah, biar bisa menebak kepribadian orang.

Aku tersenyum, kemudian berlalu.

Tidak perlu masuk biologi untuk dapat menebak kepribadian seseorang. Rajin-rajin saja membaca dan bergaul dengan banyak orang, nanti juga terlatih sendiri. Aku tersenyum lagi, bukankah ciri-ciri wanita yang sudah menikah itu punya cincin di jari manisnya?. Kayaknya di setiap pernikahan pasti ada acara pemasangan cincin ke pasangannya kan?

Kalau tentang anatomi manusia, fisiologi, antropologi, biologi manusia memang harus kuliah dulu di biologi, atau kedokteran. Dengan itu tanpa cincin pun kita tahu.

*cerita fiktif. Mulai belajar bikin cerpen :D

2 August 2010

Spidometer Shogun!

Filed under: cerita-cerita

Spidometer Shogun saya sudah menunjukkan angka 99999,9. Artinya motor saya ini sudah menempuh seratus ribu km lebih. Saya kira akan kembali ke angka 00000,0 lagi, tetapi ternyata tidak, tetap 99999.9. Wah rusak nih. Saya pun ke dealer Suzuki, kata mereka, ini bisa diklaimkan, nanti diganti yang baru, tetapi harus klaim di tempat saya membeli motor. Pas saya pulang ke Batang -saya kuliah di Jogja hehehehe, saya pun klaim ke dealer tempat saya beli.

Kata mereka, bisa saja, tetapi perlu waktu, syaratnya fotokopi stnk, kartu pengenal, dan fotokopi buku service. Wah, buku servicenya ada di Jogja, ya sudah, belum bisa diganti, saya cari dulu di rumah Jogja. Saya tidak tahu, saya taruh di mana, karena sudah lama tidak dipakai, kan bukunya cuma merekam kalau tidak salah 20 kali service saja, lah ini aku sudah 5 tahun, sudah penuh bukunya dari dulu.

Pas aku kembali ke Batang, aku service di dealer Suzuki yang lain, aku tanya sekalian, apakah bisa mengklaim spidometernya. Bisa kata mereka, syaratnya sama, cuma tidak perlu buku servicenya. Namun, tetap harus menanyakan ke pusat, aku tidak tahu pusat mana. Aku pun meninggal nomor hp, kalau bisa diklaim, saya akan dihubungi. Dua hari kemudian saya dihubungi, menanyakan apakah spidometernya masih rusak, saya bilang iya, dan kemudian disuruh menunggu lagi, karena akan ditanyakan ke pusat, diurus. Lama tidak dihubungi lagi. Saya pun punya ide.

Saya membuka situsnya Suzuki.com, mau mengirim email ke pihak Suzuki, saya cari alamat emailnya di web tersebut. Ternyata malah ada form untuk berkomunikasi, saya pun menulis masalah yang saya hadapi, saya isi no hp saya dan alamat email. Saya berharap dengan mengirim surat ke Suzuki pusat, masalah akan cepat ditanggapi.

Dan dugaan saya benar, satu hari kemudian, siang, saya menerima sms dari pihak Suzuki :

“Bapak Sunu spedo bisa diklaimkan ke Indojaya Ambarukmo depan Amplaz gratis, silahkan bertemu dengan Bapak Nanang Haryanto bagian klaim di 0274xxxxxx”

Sorenya, saya malah ditelpon, dari pihak Suzuki juga, orang yang berbeda. Beliau mengatakan, silahkan diklaimkan ke Indojaya Mataram, belakang hotel Garuda. Saya katakan saya sudah di sms pihak Suzuki juga, tadi siang, jadi saya akan ke Indojaya Ambarukmo dahulu.

Wah mantab nieh Suzuki. Langsung ditanggapi.

Besoknya, saya ke Indojaya Ambarukmo, memang bisa, tetapi spidometer habis, saya diminta menulis nomor hp untuk dihubungi jika barang sudah ada. Saya langsung menuju ke Indojaya Mataram, disana memang bisa juga, dan barangnya ada, jadi langsung bisa diganti \(oo)/ Saya tanya juga, apakah gratis, ya gratis, hanya membayar biaya bongkar dan pasang spidometer sebesar duapuluhlima ribu. Setelah selesai ada cuci gratis lagi hahaha…. seep nieh dealer.

Sekarang motor saya kayak baru lagi, sewaktu saya tulis ini, belum ada 100km hahaha.

Pelajaran penting! Jika Anda merasa urusan dengan dealer lokal terlalu lama, silahkan kontak saja pusatnya.

Miskomunikasi!

Filed under: cerita-cerita

Kemarin, pas ada Research Week UGM di GSP (Grha Sabha Pramana), ingat research week bukan richest wekk, ada sebuah kejadian yang diakibatkan miskomunikasi. Cekidbot!

Saya dan teman-teman dari Lab. Genetika Biologi UGM, berencana menjual melon unggulan produk baru dari Biologi UGM, kita nanti gabung di stannya fakultas Biologi dan KP4 UGM. Di stan Biologi melon dibelah, diiris kecil-kecil, untuk dicoba, gratis. Nah, yang di KP4, melon dijual. Jadi melon di stan Biologi untuk icip-icip, yang penjualan di KP4.

Melon sudah dipanen, sudah distok di Fakultas, tiap hari kita bawa kira-kira 100 buah melon ke GSP, tempat pamerannya. Nah disinilah terjadi miskomunikasi. Hari pertama, kita membawa melon memakai mobil dosen Lab. Genetika, tidak ada masalah.

Hari kedua, kita menyewa jasa transport, karena dosen yang kemarin, pergi ke Jakarta. Saya tidak tahu bagaimana caranya, saya hanya membawa melon dari fakultas, ke mobil, ikut mobil sampai GSP, kemudian menurunkannya, teman-teman yang lain tinggal di GSP, saya ikut mobil jasa transport kembali ke fakultas. Pembayaran yang menangani teman saya.

Hari ketiga, sama, orangnya juga sama, mobilnya yang beda. Ketika sudah sampai di GSP, sudah menurunkan melon, iseng-iseng saya tanya.

“Pak, uangnya sudah belum?”

“Oh belum Mas” kata Bapak sambil keluar ruangan, menunggu di mobilnya.

Saya pun menemui teman saya dan meminta uangnya ke dia, untuk saya berikan ke Bapak. Saya kaget.

“Oh sudah kok Mas, uangnya sudah”

Hah, saya mulai merasa tidak enak halah…. Siapa yang salah? Bapak bilang belum, lah teman saya bilang sudah. Saya pun menemui Bapak yang menunggu mobil.

“Pak kata teman saya sudah kok?”

“Oh belum Mas, yang kemarin memang sudah, tetapi yang hari ini belum”

Wah, saya mulai mengerti nih. Ada kesalahpahaman pasti. Saya pun langung mengontak teman saya supaya segera diurus kesalahpahaman ini. Ternyata memang ada miskomunikasi, perkiraan teman saya itu, uang limapuluh ribu yang dibayarkan kemarin juga untuk sewa jasa transportasi hari ini. Alasan teman saya, dia sudah sms “Pak 2 kali bolak-balik Biologi-GSP limapuluh ribu ya”. Dan menurutnya, sudah sepakat. Jadi hari kemarin, satu kali angkut dari Biologi-GSP, sekarang juga satu kali. Pas, dua kali limapuluh ribu, yang sudah dibayar kemarin.

Bapaknya juga punya alasan, menurut dia, dia juga sms “Terserah mau berapa kali bolak-balik Mas, yang penting satu kali angkut limapuluh ribu”. Begitu. Wah wah ini memang kesalahpahaman nih. Berarti menurut Bapak, dia hari ini juga harus dibayar limapuluh ribu lagi. Pantesan tadi saya tanya, jawabannya berlawanan, teman saya jawab uangnya sudah, ini benar, Bapak bilang belum, ini juga benar, ternyata miskomunikasi. Setelah berunding, teman saya memberi tigapuluhribu, karena menurutnya dari Biologi-GSP terlalu mahal jika limapuluh ribu, dekat.

Bapak menerimanya. Saya jadi tidak enak pas ikut di mobilnya lagi, karena saya ikut kembali ke fakultas. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, untungnya beliau cukup bijak. Wah, pengalaman berharga nieh, perjanjian dengan orang lain memang harus jelas.

Lawannya Surga?

Filed under: renungan, cerita-cerita

Cerita dari teman juga, semoga dapat diambil hikmahnya.

“Sun, menurutmu lawannya surga itu apa?

“Neraka” jawabku agak heran

“Lah kalau lawannya ada?”

“Tidak ada” aku mulai penasaran

“Nah menurutmu surga itu ada tidak?”

“Ada lah”

“Nah jika surga ada, maka neraka? Jika lawannya surga adalah neraka, sedangkan lawannya ada adalah tidak ada, maka jika surga ada maka neraka….?”

Hehggg

“Kamu keliru Sun, ada memang lawannya tidak ada, tetapi surga lawannya bukan neraka. Mereka tidak saling berlawanan, surga ada dan neraka ada, tetapi tidak saling berlawanan. Yah kayak Jakarta itu ada, Jogjakarta juga ada. Jakarta bukan lawan dari Jogjakarta, keduanya adalah tujuan, kita tinggal memilih mau ke mana, dan mengusahakannnya”

Wahhh aboot, seep Bro!